Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Janji Kepat Sabung Ayam

PART I Hampir seminggu Budjana termenung di tepian pematang sawah milik Made Besaki, yang dilakukannya hanya mengernyitkan dahi, bergumam sendiri, dan sesekali menggamitkan lengan memetiki ujung alang-alang yg menghalangi pandangannya. Sekira 20 tahun terakhir kegiatan hariannya menghabiskan waktu setiap pagi hingga petang mengunjungi sabung ayam. Ditemani ayam jago berbulu blintik burik hitam dengan cat khusus kilat hijau. Hari-harinya akrab dengan teriakan menyemangati Si jambul merah miliknya bertandang di medan laga guna memenangkan rupiah atau bahkan dollar. Namun kali ini berbeda ; sunyi, senyap seluruh pandangannya menanar kuning tertuju pada ujung-ujung jenis tanaman alang-alang itu. Hitungan hari ke enam, Made Besaki tak mendapati batang hidung Budjana disana. Beberapa kawan berbisik, berceloteh sekedar menanyakan kabar sang jawara sabung ayam itu. Dijawabnya dengan gelengan kepala dan kepulan asap cerutu dari mulut Made pertanda ia tak mengetahui keberadaan Bu...

TIPS MENULIS ARTIKEL

Sebuah artikel harus punya dua elemen yang bisa membuat pembacanya tergerak, atau setidaknya sudi membacanya. Yaitu artikel tersebut haruslah bagus dan menarik. Bagus berarti artikel itu baik secara isi dan kualitas, menarik berarti artikel itu dikemas dengan judul, gaya bahasa, ataupun attention getter yang enak dibaca. Tantangannya berat bukan? Artikel Anda tidak hanya harus bagus, tapi juga harus menarik. Kalau Anda menguasai kedua teknik ini, percayalah, artikel Anda akan mempunyai “nyawa” dan bisa berkomunikasi sendiri dengan orang-orang yang membacanya. Jadi, mari menengok tips menulis artikel agar terlihat bagus dan bernyawa Langkah Menulis Artikel Bagus Yang pertama, pelajari elemen “bagus” dalam artikel. Bagus disini berarti artikel Anda harus berbobot dan berkualitas. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah riset atau penelitian tentang tulisan Anda. Cari sebanyak-banyaknya bahan untuk tulisan Anda. Riset ini bertujuan supaya tulisan Anda punya data empiris ya...

Ricky

Siapa takkan terbangun mendengar dering suara bising yang mengganggu telinga di pagi buta? Siapa tak terganggu saat menjelang fajar mendengar tetangga dekat bertengkar? Siapa tahan tinggal di rumah sewa dengan kebisingan yang terjadi tiap hari? Siapa? Samar-samar, baru setengah sadar, kupencet kenop lampu di meja dekat tempat tidurku. Tampak istriku tetap tidur lelap, seolah tak peduli apakah dunia sedang kiamat. Dengan malas aku kembali menggeliat, menutup telinga dengan sudut selimut, sekadar mau menikmati satu jam lagi sebelum weker berbunyi. Aku tahu, siapa lagi kalau bukan Eric Sullivan, tetangga sebelah kanan, yang tak jarang memencet kenop nama siapa saja di luar sana asal pintu gedung dibuka. Tentu saja itu sangat mengganggu penghuni flat kami, terutama di lantai satu. Lantas terdengar suara perempuan. “Kamu mau mati, Ricki? Tahu rasa jika levermu bengkak, parumu rusak! Berapa botol nenggak alkohol, hah?” Itu pertanda perang mulut pagi-pagi sudah mulai. Perempuan yang m...

Kak Ros

Begitu keluar dari kamar dan tak sengaja menatap ke taman itu, aku terpaku: Kak Ros, perempuan hampir separo baya itu, sedang membungkuk menyorongkan wajahnya ke rimbun tapak dara. Tentu bukan sesuatu yang aneh kalau cuma menyorongkan wajah, tetapi ini, seperti kemarin kata Ben, bibir perempuan itu bergerak-gerak samar. Jadi, apakah benar, Kak Ros sedang bicara dengan daun-daun? Dan tampaknya, bukan hanya bicara. Tangan Kak Ros bergerak lembut, menyentuh, mengusap daun-daun. Tangan yang lain, dengan tak kalah hati-hati, menyemprotkan air dari botol sprayer sedemikian rupa, hingga tampak seperti seorang ibu yang memandikan dan mengeramas rambut anaknya. Tempo-tempo, semprot dan usapan itu terhenti, lalu jarinya tampak seperti mengutip dan memindahkan sesuatu dari tangkai atau punggung daun, juga sangat lembut dan hati-hati. Kembali aku ingat kata Ben. Apakah perempuan itu tengah memindahkan semut, atau serangga kecil lain, agar tak terpelanting oleh semprotan air? ”Naa,” tepuk...

SEPI PUN MENARI DI TEPI HARI

Kabar gembira datang pagi hari. Selasa, 19 Agustus 1997. Di hadapan lebih dari 500 undangan yang memenuhi Aula Serbaguna RW 18, Kelurahan Pondok Petir, pinggir selatan ibukota, telah dinikahkan secara resmi Ir Gulian Putra Ariandaru, M.A, 29 tahun, dengan Arsih, 22 tahun. Senyum itu. Misteri. Daun bibirnya yang penuh, menggurat garis lunak di atas dagunya yang hampir tepat setengah lingkaran. Seperti menyatakan dari kejauhan: hidup itu empuk. Karena itu, salahmu sendiri jika kau tak dapat tidur nyenyak. Lalu, matanya menipis ketika bibir itu terbuka perlahan, seperti tawanya yang mengalun. Selesailah dunia! Dengan garis-garis wajah yang tertarik kuat dan wajar seperti itu, perempuan akan mengisi tatapan kosong setiap lelaki. Perempuan yang menciptakan jarak setiap langkah. Perempuan-perempuan Picasso yang merambati gelap dengan cahayanya. Namanya Arsih. Kujumpai pertama, kedua, dan ketiga kalinya selalu di pertengahan pertunjukan wayang kulit. Ketika punakawan muncul hanya un...

Tips dan Teknik Penulisan Fiksi

1. IDE: Segalanya dimulai dari ide. Ide tak harus diperoleh dari tempat yang megah; tak selalu harus dengan latar belakang yang heboh.  Tentu saja selalu menarik untuk membuat cerita dengan latar belakang sejarah atau politik atau peristiwa nyata seperti kisah kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, peristiwa 30 September atau kehidupan di masa Demokrasi Terpimpin Bung Karno. Jika Anda memilih sebuah cerita dengan latar belakang sejarah dan politik nyata, maka konsekuensi logisnya: anda akan membutuhkan riset yang panjang, besar, serius, dan mendalam. Ide bisa saja diperoleh dari tempat yang ‘sederhana’, dari rumah Anda sendiri; dari keluarga; dari sekolah, kampus atau dari jalan-jalan yang Anda lalui setiap hari. Contoh: Setiap pagi, jika Anda berjalan-jalan di sekeliling kompleks rumah Anda, bayangkanlah, seperti apakah rumah A yang kebunnya berantakan dengan keluarga beranak 5? Mungkin berisik dan penuh mainan. Bagaimanakah hubungan suami-isteri itu? Harmonis? Bertengkar ...