Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

CANDIK KALA

Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut sore “candik ala”. Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan masuk ke dalam rumah. Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah, dengan kata yang tak kupahami maksudnya: “Ora ilok!” kata ibu. Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya: “Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang.” “Apa ...

KARDUS SEPATU

Hujan pertama akhirnya jatuh juga. Selepas musim kemarau yang terlampau panjang, hujan pertama selalu disambut di kampung kami dengan pesta. Wa Sunta terlihat melintas di jalan desa menggiring dua ekor kerbau kurusnya. Ketiganya berjalan gontai, tak terlihat tergesa, dipeluk petir dan hujan. Gambar mereka melamat ketika menjauh. Hujan dan petir dengan akrab mengantar mereka hingga lenyap diterkam belokan. Sejak masih gerimis, Anah, istriku, sudah membopong gentong-gentong air dari dapur, dengan sigap membawanya keluar. Anah berpesta dengan caranya sendiri. Pada tiap hujan pertama, ia selalu membersihkan gentong-gentong air kami yang kerontang selama kemarau, sambil membiarkan dirinya sendiri berlama-lama dicumbu hujan. Lekuk tubuhnya segera terbentuk oleh baju dasternya yang basah, membuatku tiba-tiba menginginkan malam segera datang. Aku sendiri, pada setiap hujan pertama seperti ini tak pernah lepas dari ritual pesta yang itu-itu juga. Duduk mencangkung di depan jendela depan...

LELAKI DARI NERAKA

LELAKI DARI NERAKA Tiba-tiba saja lelaki itu menyeruak masuk lagi ke dalam hidupku. Suara baritonnya di ujung telepon pagi ini membuatku sesak napas sekaligus membuyarkan hari yang semestinya lapang dan ringan ini. Kami berjumpa pada sebuah malam yang panas dua puluh lima tahun lalu. Berdiri di atas podium dengan dagu agak terangkat, ia memperkenalkan dirinya dalam rentetan suara berat dengan kalimat-kalimat yang ringan dan dingin. Seorang pemimpin aktivis mahasiswa terkemuka, datang dari sebuah universitas besar di Ibu Kota. Namanya menjulang, kerap disebut dengan hormat oleh para demonstran mahasiswa hingga ke banyak pulau yang jauh. Pidato singkat perkenalannya boleh jadi paling kami tunggu di antara serangkaian panjang pidato perkenalan dari pimpinan delegasi semua kampus. Ditunggu dan ternyata bermutu! Dialah bintang paling terang di langit Yogyakarta malam itu. Ia bukan saja memperkenalkan dengan amat efisien semua anggota d...

CINTA PADA SEBUAH PAGI

Sebuah rumah mungil di pinggiran timur Jakarta. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Asti berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Arnando, seperti biasa, berkutat merampungkan lukisan di studionya. Daster Asti tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan banyak tahi lalat di tempat-tempat tertutup. Hanya Arnando yang tahu persis letak-letaknya. Rambut lebat Asti dibiarkan memanjang menjuntai di punggungnya hingga nyaris ke pinggul. Hidungnya yang tak mancung kerap mengundang godaan Arnando. ”Tak apa-apa hidungmu pesek. Lebih baik berhidung pesek tapi dengan dua bukit mancung dan terurus di bawahnya,” kata Arnando sambil menyentuh lembut salah satu bukit yang menjulang di dada Asti, pada sebuah pagi yang lain. ”Lebih baik daripada apa…?” sela Asti merajuk. ”Ya…, lebih baik daripada berhidung mancung dengan dua bukit pesek tak terurus di bawahnya.” Arnando tergelak. Asti hanya tersenyum. Senyum tertahan. Adegan tersipu se...

GERIMIS SENJA DI PRAHA

Senja Agustus memerah di kaki bukit Petrin, Mala Strana. Langit mengencingi Praha tak habis-habis. Gerimis turun sejak siang dan tak juga membesar. Sungai Vltava baru saja mulai tenang setelah marah meletup-letup selama setengah pekan lalu. Dua hari lalu, airnya naik hingga sembilan meter. Jembatan Charles nyaris terendam. Kemarahan Vltava nyaris saja menenggelamkan Praha. Kau ada di situ. Begitu saja. Berpayung jingga. Berdiri mematung. Matamu terlihat menerawang. Bajumu putih, sedikit berenda. Kalau saja matahari sedang berbaik hati pada Praha, rok tipismu tentu menerawang pula. Kau seperti berjejer dengan patung-patung monumen itu. Menjadi bagiannya yang paling menarik. Monumen karya Olbram Zoubek itu sederhana belaka. Terdiri dari tujuh anak tangga dengan tujuh sosok di atasnya. Ketujuhnya terlihat sedang melangkah naik. Sosok yang berdiri di anak tangga terbawah adalah seorang lelaki dengan tubuh yang lengkap. Tapi semakin tinggi anak tangga, semakin tak lengkap bagian tub...