Langsung ke konten utama

UPS! BASAH KUYUP …

Pertengahan  desember 2010 …

Usiaku tak lagi muda, jelang angka 50 an masih melajang namun aku menikmati perjalanan hidup dengan menjadi salah satu aktifis sebuah LSM yang mengurusi anak-anak  berusia Play group dan taman kanak-kanak, ada satu kepuasan bathin disana ketika anak-anak itu mampu mengukir prestasi walaupun sekedar berpartisipasi dalam perlombaan-perlombaan yang kami selenggarakan.
Satu sore selepas event perlombaan yang cukup menguras tenaga,  karena peserta lomba kali ini mengundang hampir 2000 orang dan Alhamdulillah berjalan sukses. Semua panitia kembali berkumpul untuk melakukan evaluasi kegiatan. Sang ketua meminta pertanggung jawaban di tiap seksi dan sebagai reward suksesnya acara tadi siang di putuskan untuk mengajak semua panitia untuk bertamasya ke kolam air panas yang terletak di kota Garut jawa barat akhir desember jelang pergantian tahun baru 2011.
Beberapa anggota panitia mengajukan usulan untuk mengajak serta salah satu anggota keluarga, tak butuh banyak pertimbangan hingga usulan pun tak tertolak, namun aku bingung harus mengajak siapa?... benakku mulai menyortir dan membayangkan keponakan-keponakkanku yang layak aku ajak,
Hhmmmm … kayaknya aku ajak Bagas!” pikirku
Terbayang lucu dan gemasnya anak itu, berparas hitam manis, bertubuh pendek, gempal namun lincah persis sepertiku, menginjak usia 6 tahun di bulan ini,,,
hhmmm … kebetulan! Ajakanku kali ini sekalian hadiah ulang tahun untuknya … ”. Gumamku sambil tersenyum sendiri.
“kenapa senyam senyum sendiri?” Tanya kang Uya
“ah nggak!... “ jawabku pendek
“eh kang, nanti ajakin Fachri ya … aku ajak Bagas biar ada temen!” pintaku.
“iya kalo dia mau, dan kalo ibunya mau ikut juga ..!” tukas kang Uya terlihat berat.
“biar sama aku aja nanti yang ngawasin … “ lanjutku

***

Pukul setengah enam pagi udara dingin terasa menusuk tulang, meskipun begitu Bagas tampak senang saat ku ajak menemani di iming-imingi berenang tentunya.
Dua bis pariwisata diparkir berderet,  menyambut kedatanganku yang terlalu pagi. Namun beberapa panitia sudah terlihat disana, sibuk dengan ransel dan tas tentenganku coba memasuki ruang panitia terlebih dahulu untuk mempersiapkan kebutuhan konsumsi yang akan di bagikan ke peserta tour.
Tak berapa lama pelataran parkir mulai bising dengan deru kendaraan yang mulai berdatangan, beberapa orang panitia mulai masuk ruangan, termasuk kang Uya dengan Fachri yang terlihat memakai jaket dan celana jeans.
“eeeh ada Fachri,,, “ sapaku
“Mimi nya mana? Ko nggak ikut?” lanjutku
“nggak, miminya ada ujian jadi nggak bisa ikut .. “ jawab fachri
“mimi bekelin baju ganti nggak?” lanjutku
“nggak! “ jawab anak itu
“kenapa? “ Tanyaku heran, kan kita mau berenang
“renang kemana?” Tanya fachri
“ke garut, mang abi nggak bilang?” tukasku
“ohhh,, abi nggak bilang apa-apa, cuman bilang mau jalan-jalan aja”. Jawab anak itu datar
“ooh yaudah … main sama Bagas ya .. “ pintaku
“Iya ..” lanjut anak itu sembari menganggukkan kepala seraya menggeserkan tempat duduknya menghampiri Bagas, Tak lama kemudian kedua anak itu terlihat akrab satu sama lain. Fachri memang anak asuhku ketika ia Taman kanak-kanak dan sekarang ia sudah masuk sekolah dasar, terpaut satu tahun dengan Bagas hingga aku sudah tak asing lagi dengannya begitupun dengan Bagas yang sesekali ku ajak ke sekolah.

***

Perjalanan Bandung – Garut tak membutuhkan waktu lama karena bis berangkat tepat pukul enam pagi, hingga pukul sembilanpun bis pariwisata itu sudah terparkir di area Puncak Darajat Pass. Terbersit oleh ku entah perjalanan nanti pulang selancar ini,  karena bertepatan dengan malam tahun baru, ketua panitia menjadwalkan pukul 4 sore selepas sholat ashar kami sudah harus kembali.
Semburat rasa senang dan sumringah terpancar di setiap peserta tour setibanya di tempat itu, meskipun cuaca mendung diiringi sesekali gerimis kecil terhembus angin. Kami segera berbaris memasuki area kolam, perhatianku tertuju pada kedua anak itu Fachri dan Bagas. Bagas selalu berada tak jauh namun Fachri, jarak kami agak  berjauhan hingga saat berkumpul di rest area aku tak sempat memerhatikannya, namun sekilas aku melihat masih bersama abi nya.
“Ya sudahlah aku tak perlu mengkhawatirkannya” pikirku, lanjut mengganti baju Bagas dengan baju renang yang telah di siapkan dari rumah.
Sesaat setelah mengganti baju Bagas, selintas terlihat fahri berdiri di tepi kolam dengan Kang Uya, membuatku merasa lega karena Bagas tahu dimana ia harus menghampiri Fachri.
“Gas, jangan lupa ajak Fachri tu ada di pinggir kolam…” pintaku pada Bagas seraya menunjuk posisi Fachri, Tiba-tiba ..
“Byur!! Blubbb blubbb …” suara air terhempas ke pinggiran kolam dan kulihat Fachri terjun bebas masih dengan Celana dan Jaket jeans nya!!!!
“Astaghfirulloh!! … “ mataku terbelalak dan segera kuberlari menghampiri kang Uya,
Sontak semua mata tertuju pada kang Uya dan anak itu, terheran-heran …
“Kang Uya! Kenapa Fachri langsung nyebur bukannya di buka dulu bajunya!!” seruku sedikit gak terima, karena aku tahu dia tidak membawa bekal baju lain selain yang ia pakai.
“aaah biarin, gak apa-apa nanti pas pulang juga pasti kering!” ujarnya datar sambil berlalu.
Cibiran peserta tour dan senyum sinis tatkala melihat kelakuan kang Uya tampak Blo’on saat itu, segera berlalu dan ia menghilang entah kemana selama Fachri dan Bagas asyik bermain di kolam. Tak tega rasanya saat jelang sholat dhuhur segera ku panggil kedua anak itu untuk istirahat dan makan siang, masih juga tak kulihat sosok kang Uya semenjak obrolan terakhir kami.
Dengan lahap mereka makan siang, segera ku buka baju Fachri yang terlanjur basah kuyup. Coba menjemurnya, namun sayang cuaca siang itu tak mau berkompromi matahari enggan muncul malah gerimis sesekali  terbawa angin. Celana, baju dan jaket jeans Fachri kucoba peras, namun tetap tak berhasil kering seperti yang diinginkan.
“aaah !! sudahlah Waaa … toh bapaknya juga tidak peduli!” seru Memet salah satu panitia. Rupanya ia turut memerhatikan gerak gerik ku.
“kasihan met, nanti dia pulang pake apa?” seruku
“sekarang dimana kang Uya nya?” tanyaku
“entahlah Wa! “ tambah Memet sambil berlalu.

***

Pukul setengah 4  sore, corong dari megaphone ketua panitia sudah berkoar-koar mengingatkan untuk bersiap-siap pulang dan segera memasuki bis, masih dengan perasaan bingung selepas sholat ashar tadi Bagas sudah siap, namun sayangnya Fachri masih berselimut handukku.
Tiba-tiba Kang Uya menghampiri mendekat,
“kang Uya ni kemana aja? Ni kasihan Fachri belum pake baju!” seruku sedikit membentak kesal.
“ayo Fachri cepet di pake bajunya! “serunya tanpa menghiraukanku.
“tapi masih basah Bii.. “ jawab anak itu memelas.
“ah sudahlah, nanti juga kering sendiri!” jawabnya ketus memaksa.
Segera kuberanjak meninggalkan mereka berdua, dengan perasaan kesal tentunya. terlihat cucuran air masih menetes di celana yang Fachri kenakan, sungguh tak tega … namun aku tak bisa berbuat banyak.  Hingar bingarnya menyambut tahun baru dengan banyaknya konvoi yang tumpah ruah di jalanan memaksa perjalanan kembali pulang Garut-Bandung kali ini terkendala macet yang tak terkira dan luar biasa, bis baru sampai di Bandung pukul 10 malam, kira-kira 6 jam perjalanan. Sesaat setelah bis terparkir segera kuberanjak turun dengan perasaan iba melihat anak itu menggigil kedinginan ditambah dengan dinginnya AC dalam bis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janji Kepat Sabung Ayam

PART I Hampir seminggu Budjana termenung di tepian pematang sawah milik Made Besaki, yang dilakukannya hanya mengernyitkan dahi, bergumam sendiri, dan sesekali menggamitkan lengan memetiki ujung alang-alang yg menghalangi pandangannya. Sekira 20 tahun terakhir kegiatan hariannya menghabiskan waktu setiap pagi hingga petang mengunjungi sabung ayam. Ditemani ayam jago berbulu blintik burik hitam dengan cat khusus kilat hijau. Hari-harinya akrab dengan teriakan menyemangati Si jambul merah miliknya bertandang di medan laga guna memenangkan rupiah atau bahkan dollar. Namun kali ini berbeda ; sunyi, senyap seluruh pandangannya menanar kuning tertuju pada ujung-ujung jenis tanaman alang-alang itu. Hitungan hari ke enam, Made Besaki tak mendapati batang hidung Budjana disana. Beberapa kawan berbisik, berceloteh sekedar menanyakan kabar sang jawara sabung ayam itu. Dijawabnya dengan gelengan kepala dan kepulan asap cerutu dari mulut Made pertanda ia tak mengetahui keberadaan Bu...

Ricky

Siapa takkan terbangun mendengar dering suara bising yang mengganggu telinga di pagi buta? Siapa tak terganggu saat menjelang fajar mendengar tetangga dekat bertengkar? Siapa tahan tinggal di rumah sewa dengan kebisingan yang terjadi tiap hari? Siapa? Samar-samar, baru setengah sadar, kupencet kenop lampu di meja dekat tempat tidurku. Tampak istriku tetap tidur lelap, seolah tak peduli apakah dunia sedang kiamat. Dengan malas aku kembali menggeliat, menutup telinga dengan sudut selimut, sekadar mau menikmati satu jam lagi sebelum weker berbunyi. Aku tahu, siapa lagi kalau bukan Eric Sullivan, tetangga sebelah kanan, yang tak jarang memencet kenop nama siapa saja di luar sana asal pintu gedung dibuka. Tentu saja itu sangat mengganggu penghuni flat kami, terutama di lantai satu. Lantas terdengar suara perempuan. “Kamu mau mati, Ricki? Tahu rasa jika levermu bengkak, parumu rusak! Berapa botol nenggak alkohol, hah?” Itu pertanda perang mulut pagi-pagi sudah mulai. Perempuan yang m...

TIPS MENCIPTAKAN KARAKTER DALAM NOVEL - CERPEN

Saya selalu mengingat resep dari  Kazuo Koike , komikus Jepang yang terkenal dengan manga  Lady Snowblood  mengenai keberhasilannya menulis komik: “Character that stands out.” Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia  (Pramoedya Ananta Toer ), Emma Bovary dalam  Madam Bovary  (Gustave Flaubert),  Pariyem dalam  Pengakuan Pariyem  (Linus Suryadi) , atau Gregor Samsa dalam “ The Metaporphosis” (Franz Kafka) , seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali. Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya “memorable”, tapi juga terasa nyata? Mari kita membayangkan hamparan rumput yang luas berwarna hijau merata. Tiba-tiba di tengah hamparan itu, tumbuh bunga lantana berwarna kuning cemerlang. Siapa pun, pasti akan seg...