Langsung ke konten utama

Aku

Part 1

Entah mengapa keinginan untuk bunuh diri ini terlalu kuat, bahkan ku tak lagi melihat diriku yang berarti dimata orang lain. Aku tak lagi mereka butuhkan. Siapa yang menginginkanku? Sepertinya tak ada!

Disisi lain, aku terlihat hebat, kuat dan percaya diri. Namun sesungguhnya itu hanya kamuflase. Aku tak memiliki apa2 bahkan untuk sekedar memiliki asa pun sepertinya terlalu berlebihan.

Penolakan demi penolakan sesekali ku tepis, namun benteng yang kubangun lama kelamaan terlalu rapuh tuk bertahan .. Untuk apa? Untuk siapa .. Sampai kapan .. Terlalu lelah. Ah sudahlah ..

Aaah semua tentang aku!
Aku lagi dan lagi .. 

Semua berawal di tahun 2001, awal pernikahanku dengan seorang laki-laki yang tak cakap, tak cakap dari berbagai sudut pandang. Yaa tuhan kenapa aku mengambil keputusan yang salah? 

Tak cakap mengambil hatiku dan orangtuaku

Tak cakap memberi nafkah

Tak cakap mendidikku menjadi wanita seutuhnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kak Ros

Begitu keluar dari kamar dan tak sengaja menatap ke taman itu, aku terpaku: Kak Ros, perempuan hampir separo baya itu, sedang membungkuk menyorongkan wajahnya ke rimbun tapak dara. Tentu bukan sesuatu yang aneh kalau cuma menyorongkan wajah, tetapi ini, seperti kemarin kata Ben, bibir perempuan itu bergerak-gerak samar. Jadi, apakah benar, Kak Ros sedang bicara dengan daun-daun? Dan tampaknya, bukan hanya bicara. Tangan Kak Ros bergerak lembut, menyentuh, mengusap daun-daun. Tangan yang lain, dengan tak kalah hati-hati, menyemprotkan air dari botol sprayer sedemikian rupa, hingga tampak seperti seorang ibu yang memandikan dan mengeramas rambut anaknya. Tempo-tempo, semprot dan usapan itu terhenti, lalu jarinya tampak seperti mengutip dan memindahkan sesuatu dari tangkai atau punggung daun, juga sangat lembut dan hati-hati. Kembali aku ingat kata Ben. Apakah perempuan itu tengah memindahkan semut, atau serangga kecil lain, agar tak terpelanting oleh semprotan air? ”Naa,” tepuk...