Mestinya aku menyadari, tingkah anaknya yang begitu rupa menganiaya teman sebayanya hingga berdarah darah merupakan cerminan perlakuan orangtuanya pada dirinya. Merebut, menyingkirkan, membuat alibi seolah membenarkan apa yang mereka lakukan. Cukup dengan bahasa maaf dan sedikit perangai yang pongah cukup membuat image yang tak baik. Mestinya aku menyadari, selftalk hatiku saat itu melihat serat serat rambutnya yang kaku bak ijuk blonde terlalu kasar buatku yang terbiasa menyisir rambut ibu yang kriting sekalipun, ibu wanita dengan lisan yang sangat pedas namun termyata ada perempuan yang berambut tak wangi namun kasarnya tak layak seperti perempuan. Namun aku terkecoh!