Langsung ke konten utama

FOTOCOPY

Mestinya aku menyadari, tingkah anaknya yang begitu rupa menganiaya teman sebayanya hingga berdarah darah merupakan cerminan perlakuan orangtuanya pada dirinya. Merebut, menyingkirkan, membuat alibi seolah membenarkan apa yang mereka lakukan. Cukup dengan bahasa maaf dan sedikit perangai yang pongah cukup membuat image yang tak baik. 

Mestinya aku menyadari, selftalk hatiku saat itu melihat serat serat rambutnya yang kaku bak ijuk blonde terlalu kasar buatku yang terbiasa menyisir rambut ibu yang kriting sekalipun, ibu wanita dengan lisan yang sangat pedas namun termyata ada perempuan yang berambut tak wangi namun kasarnya tak layak seperti perempuan. 

Namun aku terkecoh! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janji Kepat Sabung Ayam

PART I Hampir seminggu Budjana termenung di tepian pematang sawah milik Made Besaki, yang dilakukannya hanya mengernyitkan dahi, bergumam sendiri, dan sesekali menggamitkan lengan memetiki ujung alang-alang yg menghalangi pandangannya. Sekira 20 tahun terakhir kegiatan hariannya menghabiskan waktu setiap pagi hingga petang mengunjungi sabung ayam. Ditemani ayam jago berbulu blintik burik hitam dengan cat khusus kilat hijau. Hari-harinya akrab dengan teriakan menyemangati Si jambul merah miliknya bertandang di medan laga guna memenangkan rupiah atau bahkan dollar. Namun kali ini berbeda ; sunyi, senyap seluruh pandangannya menanar kuning tertuju pada ujung-ujung jenis tanaman alang-alang itu. Hitungan hari ke enam, Made Besaki tak mendapati batang hidung Budjana disana. Beberapa kawan berbisik, berceloteh sekedar menanyakan kabar sang jawara sabung ayam itu. Dijawabnya dengan gelengan kepala dan kepulan asap cerutu dari mulut Made pertanda ia tak mengetahui keberadaan Bu...

Ricky

Siapa takkan terbangun mendengar dering suara bising yang mengganggu telinga di pagi buta? Siapa tak terganggu saat menjelang fajar mendengar tetangga dekat bertengkar? Siapa tahan tinggal di rumah sewa dengan kebisingan yang terjadi tiap hari? Siapa? Samar-samar, baru setengah sadar, kupencet kenop lampu di meja dekat tempat tidurku. Tampak istriku tetap tidur lelap, seolah tak peduli apakah dunia sedang kiamat. Dengan malas aku kembali menggeliat, menutup telinga dengan sudut selimut, sekadar mau menikmati satu jam lagi sebelum weker berbunyi. Aku tahu, siapa lagi kalau bukan Eric Sullivan, tetangga sebelah kanan, yang tak jarang memencet kenop nama siapa saja di luar sana asal pintu gedung dibuka. Tentu saja itu sangat mengganggu penghuni flat kami, terutama di lantai satu. Lantas terdengar suara perempuan. “Kamu mau mati, Ricki? Tahu rasa jika levermu bengkak, parumu rusak! Berapa botol nenggak alkohol, hah?” Itu pertanda perang mulut pagi-pagi sudah mulai. Perempuan yang m...

TIPS MENCIPTAKAN KARAKTER DALAM NOVEL - CERPEN

Saya selalu mengingat resep dari  Kazuo Koike , komikus Jepang yang terkenal dengan manga  Lady Snowblood  mengenai keberhasilannya menulis komik: “Character that stands out.” Resep yang sama, saya pikir bisa dipergunakan dalam menulis novel atau cerita pendek. Dengan cara inilah, kita bisa memejamkan mata dan mengingat seperti apa Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia  (Pramoedya Ananta Toer ), Emma Bovary dalam  Madam Bovary  (Gustave Flaubert),  Pariyem dalam  Pengakuan Pariyem  (Linus Suryadi) , atau Gregor Samsa dalam “ The Metaporphosis” (Franz Kafka) , seolah-olah tokoh-tokoh tersebut nyata dan kita kenali. Pertanyaan pentingnya, tentu saja, bagaimana menciptakan karakter-karakter semacam itu? Karakter-karakter yang tak hanya “memorable”, tapi juga terasa nyata? Mari kita membayangkan hamparan rumput yang luas berwarna hijau merata. Tiba-tiba di tengah hamparan itu, tumbuh bunga lantana berwarna kuning cemerlang. Siapa pun, pasti akan seg...