Langsung ke konten utama

FOTOCOPY

Mestinya aku menyadari, tingkah anaknya yang begitu rupa menganiaya teman sebayanya hingga berdarah darah merupakan cerminan perlakuan orangtuanya pada dirinya. Merebut, menyingkirkan, membuat alibi seolah membenarkan apa yang mereka lakukan. Cukup dengan bahasa maaf dan sedikit perangai yang pongah cukup membuat image yang tak baik. 

Mestinya aku menyadari, selftalk hatiku saat itu melihat serat serat rambutnya yang kaku bak ijuk blonde terlalu kasar buatku yang terbiasa menyisir rambut ibu yang kriting sekalipun, ibu wanita dengan lisan yang sangat pedas namun termyata ada perempuan yang berambut tak wangi namun kasarnya tak layak seperti perempuan. 

Namun aku terkecoh! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kak Ros

Begitu keluar dari kamar dan tak sengaja menatap ke taman itu, aku terpaku: Kak Ros, perempuan hampir separo baya itu, sedang membungkuk menyorongkan wajahnya ke rimbun tapak dara. Tentu bukan sesuatu yang aneh kalau cuma menyorongkan wajah, tetapi ini, seperti kemarin kata Ben, bibir perempuan itu bergerak-gerak samar. Jadi, apakah benar, Kak Ros sedang bicara dengan daun-daun? Dan tampaknya, bukan hanya bicara. Tangan Kak Ros bergerak lembut, menyentuh, mengusap daun-daun. Tangan yang lain, dengan tak kalah hati-hati, menyemprotkan air dari botol sprayer sedemikian rupa, hingga tampak seperti seorang ibu yang memandikan dan mengeramas rambut anaknya. Tempo-tempo, semprot dan usapan itu terhenti, lalu jarinya tampak seperti mengutip dan memindahkan sesuatu dari tangkai atau punggung daun, juga sangat lembut dan hati-hati. Kembali aku ingat kata Ben. Apakah perempuan itu tengah memindahkan semut, atau serangga kecil lain, agar tak terpelanting oleh semprotan air? ”Naa,” tepuk...