Langsung ke konten utama

BUKAN ROMEO AND JULIET!

Aku tak tahu harus memulai darimana, 
Aku sangat meyakini hukum magnetik dalam dunia, ketika satu perjumpaan satu manusia dengan lainnya diselimuti kutub utara dan selatan sebuah magnet maka terjadilah perjumpaan saling tarik menarik dan mungkin Tuhanpun meridhoinya. Namun sayangnya mungkin posisiku menarik kutub-kutub rongsokan yang teronggok.

Bagaikan gula dan garam, kita takkan pernah tahu tabiat seseorang jika ia hanya mencicipi sekilas, ia baru akan tahu ketika rasa gula itu manis jika sudah teraduk sempurna dan begitupun rasa asin. 

Kita tidak pernah tahu serupa apa topeng seorang manusia dihadapan manusia lainnya jika mereka tidak saling mengenal diri dalam jangka waktu lama. Setiap manusia di dunia sangat piawai mengolah topengnya mempersona guna memperdaya sesamanya. 

***

Sayang! 
Atas nama sayang dan Julia terkecoh dengan kata ini ketika Julia berjumpa dengan Ami perempuan tangguh berbadan besar bagaikan hulk yang siap memberikan tameng kala rumah tangga Julia di ujung tanduk. Ami datang atas nama pelindung bak malaikat yang mengukuhkan keragu raguan Julia menggugat kelainan seks Padita suaminya ke ranah majelis hakim. 

Naif satu kata untuk Julia kala itu entah untuk berapa lama. Tertipu dengan dandanan necis Padita padahal ia tak pernah suka bahkan sang orangtua dan kakak Julia. Bekas lipitan setrika di celana panjang dan sabuk kulit bukan berarti menyatukan jiwa maskulinitas dengan kelaki-lakian yang penuh tanggungjawab. 

Tiga hari berselang setelah gelaran pernikahan, Julia sangat menyesali kelajangannya ia hempaskan tergesa-gesa. Satu persatu keunikan yang menggelitik dari seorang Padita yang tak pernah mau bercanda tawa dengan mertua membuat Julia jengah, mengurung diri dan ia hanya ingin memecahkan keperawanan Julia puluhan kali dalam hitungan 24 jam. 

Ah Julia lelah sangat! 
Hingga ia berpikir untuk menyerahkan kembali buku nikahnya di majelis penghulu. 

dan Kehadiran Ami bagaikan fatamorgana yang siap memberikan ilusi harap 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kak Ros

Begitu keluar dari kamar dan tak sengaja menatap ke taman itu, aku terpaku: Kak Ros, perempuan hampir separo baya itu, sedang membungkuk menyorongkan wajahnya ke rimbun tapak dara. Tentu bukan sesuatu yang aneh kalau cuma menyorongkan wajah, tetapi ini, seperti kemarin kata Ben, bibir perempuan itu bergerak-gerak samar. Jadi, apakah benar, Kak Ros sedang bicara dengan daun-daun? Dan tampaknya, bukan hanya bicara. Tangan Kak Ros bergerak lembut, menyentuh, mengusap daun-daun. Tangan yang lain, dengan tak kalah hati-hati, menyemprotkan air dari botol sprayer sedemikian rupa, hingga tampak seperti seorang ibu yang memandikan dan mengeramas rambut anaknya. Tempo-tempo, semprot dan usapan itu terhenti, lalu jarinya tampak seperti mengutip dan memindahkan sesuatu dari tangkai atau punggung daun, juga sangat lembut dan hati-hati. Kembali aku ingat kata Ben. Apakah perempuan itu tengah memindahkan semut, atau serangga kecil lain, agar tak terpelanting oleh semprotan air? ”Naa,” tepuk...

UPS! BASAH KUYUP …

Pertengahan  desember 2010 … Usiaku tak lagi muda, jelang angka 50 an masih melajang namun aku menikmati perjalanan hidup dengan menjadi salah satu aktifis sebuah LSM yang mengurusi anak-anak  berusia Play group dan taman kanak-kanak, ada satu kepuasan bathin disana ketika anak-anak itu mampu mengukir prestasi walaupun sekedar berpartisipasi dalam perlombaan-perlombaan yang kami selenggarakan. Satu sore selepas event perlombaan yang cukup menguras tenaga,  karena peserta lomba kali ini mengundang hampir 2000 orang dan Alhamdulillah berjalan sukses. Semua panitia kembali berkumpul untuk melakukan evaluasi kegiatan. Sang ketua meminta pertanggung jawaban di tiap seksi dan sebagai reward suksesnya acara tadi siang di putuskan untuk mengajak semua panitia untuk bertamasya ke kolam air panas yang terletak di kota Garut jawa barat akhir desember jelang pergantian tahun baru 2011. Beberapa anggota panitia mengajukan usulan untuk mengajak serta salah satu anggota ke...

MENANTI AJAL

”Budiman! Ada kabar gembira! Lamaran kamu diterima! Bulan depan kamu bisa mulai kerja! Dengan gaji pokok per bulan lima-belas juta! Berarti tidak lama lagi kamu bakalan terbebas dari utang-utang kamu. Terbebas dari teror para penagih utang yang selama berbulan-bulan mengejar ke mana pun kamu pergi.” Memang aku diterima kerja di mana?” ”Perusahaan minyak, Bud! Di Dubai, Timur-Tengah!” Budiman seketika terdiam. Temannya yang bekerja di agen tenaga kerja itu dibiarkannya terus bicara di telepon dengan penuh semangat. Tentang gambaran masa depan yang sangat cerah. Tentang jaminan kesejahteraan yang sudah jelas membayang di depan mata. Tentang sekian tahun lagi pulang ke Indonesia sebagai orang kaya…. Tetapi, Budiman tak lagi menyimaknya. Perhatiannya lebih terarah ke sosok pria renta yang berbaring lemah di hadapannya. Dengan selang oksigen menempel di hidung. Dengan cairan infus mengalir lewat jarum yang menancap di pergelangan tangan. Dengan mata mengatup rapat. Dan kulit wajah...